Kamis, 13 Maret 2014

Ayah I


Aku melihat slang infuse. Mataku tak berkedip. Lalu aku melihat ayah yang sedang tidur di atas lantai putih. Pasti dingin. Aku yang tidur berselimut tebal seperti ini saja masih menggigil.
Gigiku bergemeletuk. Seperti suara burung pelatuk di film kartun woody wood packer yang dulu sering kutonton hari minggu pagi. Aku sangat senang ketika hari Minggu tiba. Aku bisa menonton tv mulai jam 6 pagi sampai jam 11 siang tanpa mandi. Sarapan pun juga sambil menonton tv. Tidak ada buku. Tidak ada pensil dan penghapus. Bangku dan kursi kayu yang terkadang membuat pantatku pegal.
Ayah yang selalu menemaniku setiap Minggu pagi. Sebenarnya dia memang selalu menemaniku setiap hari. Mengantarku ke sekolah dan menjemputku lalu biasanya kami berjalan-jalan bersama. Ke taman bermain lalu beli es krim.
Aku sering bertanya pada ayah di mana ibu. Suatu ketika kami berjalan-jalan di taman aku melihat anak sebayaku sedang menikmati jagung bakar dengan ibunya yang selalu mengelap mulutnya ketika keju dan coklat yang lumer di mulut anak itu jatuh ke dagunya. Ayah bilang ibuku berada di tempat lain yang lebih indah daripada di rumah kami.
Aku juga bertanya kenapa ibu tidak mengajak aku dan ayah serta tante Elina? Ayah hanya tersenyum dan tidak menjawab.
Karena ayah tidak menjawab pertanyaanku, aku coba bertanya pada tante Elina kenapa ibu tidak mengajak kami ke tempatnya? Apa ibu tidak sayang pada kami? Tapi tanteku yang sangat aku sayang itu tidak menjawab juga. Dia malah mengajakku tepat makan makanan cepat saji di dekat rumah dan tentu saja semua itu makin membuatku penasaran. Apakah ibu di sana tidak mengingatku sama sekali? Apakah ibu tidak pernah melihat wajahku? Apa ibu tidak sayang padaku? Di mana sebenarnya ibu berada? Yang bisa aku lakukan hanya memandangi foto ibu. Padahal aku sangat ingin mendengar suara ibu. Seperti apa kedengarannya. Hmm.. Aku hanya bisa berhayal tentang suara ibu.
Aku mengerjapkan mataku ketika suara suster Artika samar-samar terdengar dari luar. Aku melihat ayah yang masih tidur di lantai. Kaus putihnya yang sudah usang tersingkap sedikit di bagian pinggang, memperlihatkan sabuk hitam yang melingkari pinggangnya. Mataku menyusuri kaki ayah yang terbungkus celana yang warnanya aku tidak kenal. Seperti hitam tapi bukan hitam. Putih? Lupakan saja. Atau abu-abu? Atau mungkin aku belum sempat diajari oleh guruku warna apa itu.
Suster Artika masuk ke kamar tempat aku berbaring saat ini. Dia lalu menyunggingkan senyum ketika melihatku tersenyum padanya.
“Suster!”Suaraku menggema.
“Jangan keras-keras sayang. Nanti ayahmu bangun.”
“Iya, kasihan ayah sus. Kemarin malam dia tidak tidur.”
Suster Artika mengangguk. Senyumnya masih belum pudar. Lalu berjalan ke arah ranjangku dan berdiri tepat di sebelah kakiku. Memijitnya sedikit.”Nanti sore waktunya Kemo sayang.”
“Aku tahu sus.”Suaraku serak.”Kapan ya aku bisa berhenti.”
“Berhenti?”
“Kemo.”Jawabku singkat.
Suster mengelus lembut kakiku yang kurus.
“Ya, segera sayang.”
“Yang benar?”
“InshaAllah.”
Aku sering mendengar suster berkata InshaAllah. Tapi aku sama sekali tidak mengerti apa artinya. Ayah atau tante Elina tidak pernah berkata seperti itu.
“InshaAllah itu apa artinya.”
“Bila Allah menghendaki.”
“Menghendaki itu apa?”
“Mengizinkan sayang.”
“Memang kenapa harus pakai izin? Izin siapa?”
“Allah.”
“Siapa dia?”
“Tuhan semesta alam.”
“Ya. Aku tahu Tuhan.” Aku memejamkan mata ketika jantungku mulai berdegup kencang. Ini sering sekali terjadi dan membuatku sedikit sesak nafas.
“Fariz?”Suara suster Artika terdengar samar di telingaku.
Lalu cairan kuning sukses keluar melalui mulutku. Aku tidak suka ini. Ketika aku muntah aku merasa ingin sekali berontak. Aku benci munta dan melihat muntahanku sendiri. Tapi masih belum berhenti aku masih muntah dengan dahsyat di lantai. Ayah pasti terkerna cairan kuning berbau hambar itu karena berdiri di dekatku sekarang. Memegangi pergelangan tanganku dengan erat.
Suster Artika mengelap sekitar bibirku serta dagu dengan tisu. AKu mengecap-ngecap. Rasanya tidak enak.
Aku memperhatikan baju ayah yang terkena noda muntah di bagian kerah dan dada.’Ayah, maafkan aku.”Lalu ayah memelukku erat dan aku bisa merasakan kehangatan ayah sekarang. Inilah yang aku butuhkan.
“Kenapa kamu minta maaf?”
“Muntahanku. Mengotori pakaian ayah.”
“Kan kamu tahu ayah punya banyak baju.”
“Hmm.. Aku memang selalu merepotkan ya?”
“Siapa bilang kamu merepotkan? Kamu anak ayah yang sangat membanggakan.”
Aku tahu ayah bohong. Apa yang bisa dibanggakan dari anak berusia 11 tahun yang hanya bisa menghabiskan uang dengan berbaring di ranjang rumah sakit. Seharusnya aku bermain dengan anak sebayaku. Seharusnya aku menjadi juara kelas seperti dulu. Seharusnya. Seharusnya. Seharusnya. Aku mengantuk di pelukan ayah. Aku pulas.

 Bersambung...