Aku melihat
slang infuse. Mataku tak berkedip. Lalu aku melihat ayah yang sedang
tidur di atas lantai putih. Pasti dingin. Aku yang tidur berselimut tebal
seperti ini saja masih menggigil.
Gigiku
bergemeletuk. Seperti suara burung pelatuk di film kartun woody wood packer yang
dulu sering kutonton hari minggu pagi. Aku sangat senang ketika hari Minggu
tiba. Aku bisa menonton tv mulai jam 6 pagi sampai jam 11 siang tanpa mandi.
Sarapan pun juga sambil menonton tv. Tidak ada buku. Tidak ada pensil dan
penghapus. Bangku dan kursi kayu yang terkadang membuat pantatku pegal.
Ayah yang
selalu menemaniku setiap Minggu pagi. Sebenarnya dia memang selalu menemaniku
setiap hari. Mengantarku ke sekolah dan menjemputku lalu biasanya kami
berjalan-jalan bersama. Ke taman bermain lalu beli es krim.
Aku sering bertanya
pada ayah di mana ibu. Suatu ketika kami berjalan-jalan di taman aku melihat anak
sebayaku sedang menikmati jagung bakar dengan ibunya yang selalu mengelap
mulutnya ketika keju dan coklat yang lumer di mulut anak itu jatuh ke dagunya.
Ayah bilang ibuku berada di tempat lain yang lebih indah daripada di rumah
kami.
Aku juga
bertanya kenapa ibu tidak mengajak aku dan ayah serta tante Elina? Ayah hanya
tersenyum dan tidak menjawab.
Karena ayah
tidak menjawab pertanyaanku, aku coba bertanya pada tante Elina kenapa ibu
tidak mengajak kami ke tempatnya? Apa ibu tidak sayang pada kami? Tapi tanteku
yang sangat aku sayang itu tidak menjawab juga. Dia malah mengajakku tepat
makan makanan cepat saji di dekat rumah dan tentu saja semua itu makin
membuatku penasaran. Apakah ibu di sana tidak mengingatku sama sekali? Apakah
ibu tidak pernah melihat wajahku? Apa ibu tidak sayang padaku? Di mana
sebenarnya ibu berada? Yang bisa aku lakukan hanya memandangi foto ibu. Padahal
aku sangat ingin mendengar suara ibu. Seperti apa kedengarannya. Hmm.. Aku
hanya bisa berhayal tentang suara ibu.
Aku
mengerjapkan mataku ketika suara suster Artika samar-samar terdengar dari luar.
Aku melihat ayah yang masih tidur di lantai. Kaus putihnya yang sudah usang
tersingkap sedikit di bagian pinggang, memperlihatkan sabuk hitam yang
melingkari pinggangnya. Mataku menyusuri kaki ayah yang terbungkus celana yang
warnanya aku tidak kenal. Seperti hitam tapi bukan hitam. Putih? Lupakan saja. Atau
abu-abu? Atau mungkin aku belum sempat diajari oleh guruku warna apa itu.
Suster Artika
masuk ke kamar tempat aku berbaring saat ini. Dia lalu menyunggingkan senyum
ketika melihatku tersenyum padanya.
“Suster!”Suaraku
menggema.
“Jangan
keras-keras sayang. Nanti ayahmu bangun.”
“Iya, kasihan
ayah sus. Kemarin malam dia tidak tidur.”
Suster Artika
mengangguk. Senyumnya masih belum pudar. Lalu berjalan ke arah ranjangku dan
berdiri tepat di sebelah kakiku. Memijitnya sedikit.”Nanti sore waktunya Kemo sayang.”
“Aku tahu
sus.”Suaraku serak.”Kapan ya aku bisa berhenti.”
“Berhenti?”
“Kemo.”Jawabku
singkat.
Suster mengelus
lembut kakiku yang kurus.
“Ya, segera
sayang.”
“Yang benar?”
“InshaAllah.”
Aku sering
mendengar suster berkata InshaAllah. Tapi aku sama sekali tidak mengerti apa
artinya. Ayah atau tante Elina tidak pernah berkata seperti itu.
“InshaAllah itu
apa artinya.”
“Bila Allah
menghendaki.”
“Menghendaki
itu apa?”
“Mengizinkan
sayang.”
“Memang kenapa
harus pakai izin? Izin siapa?”
“Allah.”
“Siapa dia?”
“Tuhan semesta
alam.”
“Ya. Aku tahu
Tuhan.” Aku memejamkan mata ketika jantungku mulai berdegup kencang. Ini sering
sekali terjadi dan membuatku sedikit sesak nafas.
“Fariz?”Suara suster
Artika terdengar samar di telingaku.
Lalu cairan
kuning sukses keluar melalui mulutku. Aku tidak suka ini. Ketika aku muntah aku
merasa ingin sekali berontak. Aku benci munta dan melihat muntahanku sendiri.
Tapi masih belum berhenti aku masih muntah dengan dahsyat di lantai. Ayah pasti
terkerna cairan kuning berbau hambar itu karena berdiri di dekatku sekarang.
Memegangi pergelangan tanganku dengan erat.
Suster Artika
mengelap sekitar bibirku serta dagu dengan tisu. AKu mengecap-ngecap. Rasanya
tidak enak.
Aku
memperhatikan baju ayah yang terkena noda muntah di bagian kerah dan
dada.’Ayah, maafkan aku.”Lalu ayah memelukku erat dan aku bisa merasakan
kehangatan ayah sekarang. Inilah yang aku butuhkan.
“Kenapa kamu
minta maaf?”
“Muntahanku.
Mengotori pakaian ayah.”
“Kan kamu tahu
ayah punya banyak baju.”
“Hmm.. Aku memang
selalu merepotkan ya?”
“Siapa bilang
kamu merepotkan? Kamu anak ayah yang sangat membanggakan.”
Aku tahu ayah
bohong. Apa yang bisa dibanggakan dari anak berusia 11 tahun yang hanya bisa
menghabiskan uang dengan berbaring di ranjang rumah sakit. Seharusnya aku
bermain dengan anak sebayaku. Seharusnya aku menjadi juara kelas seperti dulu.
Seharusnya. Seharusnya. Seharusnya. Aku mengantuk di pelukan ayah. Aku pulas.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar